Angin 3

“Seandainya aku bukan ……

Tapi kau angin!

Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar,

menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.

 

“Seandainya aku . . . ., .”

Tapi kau angin!

Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.

 

“Seandainya ……

Tapi kau angin!

Jangan menjerit:

semerbakmu memekakkanku.

 

 

“Seandainya aku bukan ……

Tapi kau angin!

Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar,

menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.

 

“Seandainya aku . . . ., .”

Tapi kau angin!

Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.

 

“Seandainya ……

Tapi kau angin!

Jangan menjerit:

semerbakmu memekakkanku.

 

 

Sapardi Djoko Damono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: