Sajak Putih

Beribu saat dengan kenangan
surut pelahan
kita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh
sewaktu detik pun jatuh

kita dengarkan bumi yang tua dalam setia
kasih tanpa suara
sewaktu bayang-bayang kita memanjang
mengabur batas ruang

kita pun bisu tersekat dalam pesona
sewaktu ia pun memanggil-manggil
sewaktu kata yang membuat kita begitu terpencil
di luar cuaca

Saparsi Djoko Damono

3 Komentar

  1. Hyu said,

    Desember 21, 2008 pada 2:03 pm

    num,pang le,wat om…

  2. ree,,, said,

    Februari 18, 2009 pada 10:03 am

    I like it,,,,
    ketika srigala itu mengaum kepadaku,,,mencibirku karna purnamaku,,
    maka asa itu kan tetep terpatri,,,meski rintik bulan kemarin tak jua mati,,,

  3. CA said,

    April 29, 2009 pada 12:30 pm

    Waduh Susah bgt nih cari teks ni puisi @@ untung ketemu ^^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: