KETIKA JARI-JARI BUNGA TERBUKA

Ketika jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa : betapa sengit
cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya; di langit
menyisih awan hari ini; di bumi
meriap sepi nan purba;
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata, suatu pagi
di sayap kupu-kupu, di sayap warna
swara burung di ranting-ranting cuaca,
bulu-bulu cahaya : betapa parah
cinta kita
Mabuk berjalan, diantara jerit bunga-bunga rekah

6 Komentar

  1. wookie said,

    April 23, 2008 pada 9:33 am

    Qren……….!!!!
    tu puisi dalem BuangetSSSSSSSSSS…………!!!!!!!!!

  2. akom said,

    Juli 24, 2009 pada 2:02 pm

    si kakek sangat pandai mengolah kata….
    duh….. kapan aku bisa begitu…….

  3. tika senja said,

    Januari 22, 2010 pada 9:42 am

    aku mabuk berjalan diantara jerirjerit ribuan kata dalam puisipuisi Eyang Sapardi.. :DDD

  4. Derry hudaya said,

    September 25, 2010 pada 8:50 am

    imajinasinya jempol uy
    kadang trasa nakal

  5. Januari 13, 2011 pada 2:48 am

    rangkaian kata-katanya sangat menyentuh relung hati yang sangat dalam. begitu spiritualisnya.

  6. lionel rafli wanggai said,

    Desember 11, 2011 pada 10:21 am

    puisinya sanagat menyuruh wwwwwwwkkkkkkkkkkkkkkkkk


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: