Memperbaiki Konsep Diri

Memperbaiki Konsep Diri


Ditulis oleh Administrator
Sunday, 07 October 2007
“Aku tak bisa apa-apa…”
“Setelah ikut pelatihan itu, aku tahu bahwa aku bisa melakukan hal semacam itu…”
Ungkapan-ungkapan di atas mencerminkan konsep diri seseorang. Konsep-diri adalah apa yang kita persepsikan terhadap diri kita; bagaimana kita mempersepsikan diri sendiri. Semua orang pada dasarnya punya konsep-diri. Yang berbeda adalah “bagaimana-nya” persepsi itu kita ciptakan, pikirkan, dan rasakan.
Ada orang yang mempersepsikan dirinya sebagai sosok yang punya kelebihan tertentu. Persepsi ini kemudian mendorongnya untuk meraih prestasi tertentu. Ada juga orang yang mempersepsikan dirinya sebagai sosok yang tidak punya kelebihan apa-apa. Secara alami, persepsi demikian kurang memberikan dorongan.
Intinya, ada Konsep-diri positif dan ada Konsep-diri negatif. Konsep-diri ini biasanya amat sangat jarang kita nyatakan melalui ucapan mulut. Bahkan banyak yang tidak kita sadari. Umumnya, konsep-diri itu kita “batin” dan langsung kita praktekkan.Sejauh manakah konsep-diri ini berpengaruh bagi kemajuan seseorang?Konsep Diri Punya Pengaruh
Sejauh manakah konsep-diri ini berpengaruh bagi kemajuan seseorang?

Pertama, konsep-diri berhubungan dengan kualitas hubungan intrapersonal (diri sendiri). Konsep-diri positif akan memproduksi kualitas hubungan dengan diri sendiri yang positif. Ini misalnya harmonis dengan diri sendiri, mengetahui kelebihan dan kelemahan secara lebih akurat, atau punya penilaian positif terhadap diri sendiri. Hubungan yang harmonis akan menciptakan kebahagiaan diri (perasaan positif terhadap diri sendiri).

Perasaan positif mendorong kita untuk melakukan hal-hal positif. Seringkali kita tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik karena kita menyimpan perasaan yang tidak baik. Kalau kita sedang merasa amburadul, biasanya pekerjaan kita berantakan juga.

Kedua, konsep diri terkait dengan kualitas hubungan dengan orang lain. Orang yang hubunganya harmonis dengan dirinya akan menghasilkan hubungan yang harmonis dengan orang lain. Sebaliknya, orang yang di dalam dirinya ada perang, akan mudah memproduksi peperangan juga di luar.

Berbagai study di bidang kesehatan mental mengungkap bahwa orang yang sedang mengalami stres atau depresi kurang bisa menjalin hubungan harmonis dengan orang lain. Biasanya, hubungan mereka diwarnai dengan semangat permusuhan, konflik atau minimalnya gampang patah.

Konsep-diri juga terkait dengan isi pikiran saat berhubungan dengan orang lain atau sering disebut dengan istilah filsafat hidup. Ada orang yang punya filsafat hidup memberi, ingin berbagi, ingin bekerjasama, ingin meminta (diberi), ingin mengambil, dan lain-lain.

Konsep-diri yang lemah akan mendorong kita untuk meminta. Ini misalnya saja: apa yang bisa diberikan kepada saya, apa yang bisa saya “manfaatkan”, apa yang bisa saya ambil, dan lain-lain. Sebaliknya, konsep-diri yang kuat akan mendorong kita untuk berpikir, misalnya saja: Apa yang bisa saya berikan, apa yang bisa saya kerjasamakan, apa yang bisa saya sinergikan, apa yang bisa saya bantu, dan lain-lain.

Kalau bicara keharmonisan hubungan jangka panjang, konsep mental yang paling menjanjikan adalah konsep mental yang kuat: saling memberi, saling berbagi, saling bersinergi, dan semisalnya.

Ketiga, konsep diri terkait dengan kualitas seseorang dalam menghadapi perubahan keadaan. Perubahan itu bisa dipahami sebagai tekanan atau tantangan. Ini tergantung pada bagaimana kita punya persepsi diri. Tantangan adalah kesempatan untuk membuktikan kemampuan, kebolehan, atau kehebatan kita.

Konsep-diri yang bagus akan memproduksi kepercayaan yang bagus (pede). Orang yang pede akan cenderung melihat perubahan sebagai tantangan untuk dihadapi, tantangan untuk diselesaikan, tantangan untuk dilompati. Karena itu, seperti kata Mohammad Ali, yang membuat orang lari dari masalah itu adalah kepercayaan-diri yang rendah.

Sumber Konsep-diri

Konsep diri yang kita miliki bersumber dari dua arah, yaitu sumber eksternal dan sumber internal.

Sumber eksternal itu misalnya adalah keluarga, lingkungan, komunitas, atau sumber-sumber lainnya. Tak jarang kita temui ada satu keluarga yang seluruh SDM-nya bagus. Tapi tak jarang juga kita jumpai ada satu keluarga yang SDM-nya tidak / belum bagus. Ini terkait dengan pemahaman, nilai-nilai, budaya, dan berbagai faktor yang melandasi terbentuknya konsep-diri tertentu di dalam keluarga.

Begitu juga dengan lembaga sekolah. Ada sekolah-sekolah tertentu yang sudah “berpengalaman” mencetak alumni yang sebagian besarnya bagus. Tapi ada yang sama sekali tidak / belum jelas alumninya. Apa yang membedakan? Salah satu yang membedakan adalah konsep-diri kolektif yang berkembang di sekolah itu. Tentu juga terkait dengan faktor-faktor “eks” lainnya.

Sumber internal maksudnya adalah kita sendiri yang menciptakan. Terlepas apakah itu kita ciptakan secara sadar atau tidak. Ketika kita berkesimpulan tidak punya kelebihan apa-apa, tidak punya bakat apa-apa, tidak punya arti apa-apa, sebetulnya itu bukan berarti kita tidak punya. Itu semua adalah penilaian kita, persepsi kita, atau opini kita tentang diri kita. Pendeknya, itulah konsep-diri yang kita pilih.

Perlu secara adil kita akui juga, ketika kita punya konsep-diri seperti di atas, ini memang tidak membuat kita mati. Tapi untuk kepentingan kemajuan dan perkembangan, konsep-diri itu punya peranan yang signifikan. Tindakan manusia itu erat kaitannya dengan bagaimana manusia itu mendefinisikan dirinya. Senada dengan itu, beberapa ahli jiwa menulis, “Dari sistem pendidikan yang terbukti berhasil di seluruh dunia, citra diri ternyata lebih penting dari materi pelajaran.”

Ada satu hal lagi yang mungkin perlu kita ingat di sini. Dari praktek hidup bisa kita ketahui bahwa konsep-diri itu ada yang sifatnya permanen. Artinya sudah masuk dalam alam bawah sadar, sudah benar-benar melekat dengan diri kita. Ini misalnya: kita secara otomatis punya konsep-diri yang lemah atau negatif dan itu berlangsung dalam periode yang cukup lama.

Tetapi ada juga yang sifatnya kondisional berdasarkan keadaan spesifik atau kepentingan spesifik. Ini misalnya kita mendesain format mental semenarik mungkin saat mau bertemu calon mertua, saat diwawancarai kerja, dan lain-lain.

Untuk kepentingan perkembangan jangka panjang, yang benar-benar perlu kita perbaiki adalah konsep-diri yang sudah masuk ke alam bawah sadar. Ini perlu “kerja keras” untuk memperbaikinya.

2 Komentar

  1. phynhonk said,

    April 11, 2008 pada 3:43 am

    XLN…….
    sekedar tambahan duank, aq punya filsafat tp mngkn lbh tepatnya prinsip hidup yang sampai saat ni sngt mmpngaruhi prilaku maupun pmikiran hdp gw. N smoga nie dpt mmbri inspirasi bwat loe nulis lg.
    “apa yang Q-ta pikirkan, maka itulah yang akan terjadi”

  2. bagus said,

    April 11, 2008 pada 4:32 am

    kweeeeeereeeeeennnnnnn abyiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiizt…………………..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: