April 30, 2008 pada 10:15 am (Aku Cemburu, Angin, Angin Pagi, Arang, Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari, Buih, Catatan Mawar, Dengan Puisi, Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi, Di Taman Waktu Sore Hari, Doa Terakhir Seorang Musafir, Duka-Mu Abadi, Dunia Muda Sastra, Gadis Peminta-Minta, Hatiku Selembar Daun, Hujan Bulan Juni, Hutan Kelabu Dalam Hujan, Isyarat Bunga Api, Jendela, KETIKA JARI-JARI BUNGA TERBUKA, Karangan Bunga, Kau Yang Tidak Menangis, Kucing ikan asin dan aku, Kutuliskan, Kwatrin Tentang Sebuah Poci, Malu Aku Jadi Orang Indonesia, Mata Pisau, Nagasari, Pada Suatu Hari Nanti, Pada Suatu Saat Di Dunia, Pahlawan, Peringatan 1, Proklamasi, Rembulan Kali Ini, Saat Sebelum Berangkat, Sajak Di Terminal, Sajak Putih, Sebuah Taman Sore Hari, Sekiranya Bukan Kalau, Senja di Pelabuhan Kecil, Sepi, Sonet: Hei Jangan Kau Patahkan, Stanza, Tapi, Ujung Jarummu)
SStttttt!!!!!

5 Tanggapan
Maret 24, 2008 pada 10:11 am (Sonet: Hei Jangan Kau Patahkan)
Sonet: Hei Jangan Kau Patahkan!
Hei ! jangan kau patahkan kuntum bunga itu
Ia sedang mengembang: bergoyang dahan-dahannya yang tua
Yang telah mengenal baik,kau tahu,
Segala perubahan cuaca.
Bayangkan : akar-akar yang sabar menyusup dan menjalar
Hujan pun turun setiap bumi hampir hangus terbakar
Dan mekarlah bunga itu perlahan-lahan
Dengan gaib,dari rahim alam
Jangan : saksikan saja dengan teliti
Bagaimana matahari memulasnya warna-warni, sambil diam-diam
Membunuhnya dengan hati-hati sekali
Dalam kasih sayang, dalam rindu dendam alam
Lihat: iapun terkulai perlahan-lahan
Dengan indah sekali,tanpa satu keluhan
Sapardi Dj. D.
1 Tanggapan